Pelajar/siswa adalah sosok calon intelektual muda yang dipersiapkan melalui suatu proses pendidikan yang profesional dan berkesinambungan menuju terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak hanya ilmu pengetahuan saja, Keterampilan/skill, etika dan moralitas juga menjadi unsur yang tak kalah pentingnya sebagai menu bagi para pelajar.
Idealnya dari hasil yang diharapkan dari jenjang pendidikan yang selenggarakan adalah adanya suatu perubahan pada peserta didik/pelajar baik itu menyangkut ilmu pengetahuan, keterampilan yang dimiliki, kemampuan berpikir, maupun sikap dan prilakunya. Namun, lamanya waktu yang ditempuh pendidikan di sekolah tidak bisa menjadi jaminan bahwa seorang anak telah matang dan sesuai standar kelulusan yang ditentukan jenjang sekolahnya. Memang tak dapat kita pungkiri bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak sepenuhnya tergantung pada sekolah, faktor lingkungan dan keluarga juga ikut mengambil bagian di dalamnya.
Di dalam sekolah, anak menjadi tanggung jawab pihak sekolah untuk memantau dan mengontrol terhadap aktifitas pendidikannya. Setelah pulang sekolah, kontrol dan pengawasan anak sepenuhnya kembali ke 2 faktor yang paling berperan yaitu keluarga dan lingkungan pergaulan anak. Selain memegang peranan yang sangat besar, 2 faktor ini memiliki porsi waktu yang lebih besar dibandingkan sekolah. Di sinilah peranan orang tua alias nyokap dan bokap sangat dituntut untuk aktif dan proaktif memantau pergaulan dan aktifitas belajara anak-anaknya, karena menurut pendapat AA Bim pangkal kerawanan prilaku negatif siswa berasal dari keteledoran dan kelonggaran yang berlebihan dari para orang tua siwa (maaf neh…bukannya mendeskriditkan para orang tua murid ….senyum donx…jangan cemberut ! ), tengoklah bahwa siswa-siswa yang bermasalah di sekolah itu rata-ratanya bukan anak-anak yang di ruamahnya suka mengaji, suka belajar, suka membantu pekerjaan rumah tangga, ataupun patuh ama nasehatnya orang tua ! yup ! ini emang pendapat AA Bim yang mungkin ada kekeliruannya, tapi setidaknya ini input buat buat para pembaca tulisanku khususnya para orang tua siswa untuk memberikan perhatian pada perkembangan pendidikan anak-anaknya selama di rumah.
Mungkin disadari atau tidak bahwa prilaku dan sikap anak-anak zaman sekarang jauh lebih agresif dan mengalami demoralitas, selain karena hal-hal yang disebutkan tadi di atas. Anak-anak zaman sekarang lebih men-dewa-kan tayangan-tayang televisi, terutama kalangan remaja yang lebih suka mengadopt prilaku tokoh-tokoh sinetron, telenovela, miniseri ataupun film kesayanngannya. Menonton tayangan Televisi memang bukan DOSA BESAR ! tapi kalau hal-hal negatifnya yang lebih “getol” diperagakan di kehidupan nyata itu yang DOSA BESAR ! (he…he..AA Bim Kaya Ustadz ajah ya…). Coba akui secara jujur…..Remaja akan lebih cepat menangkap atau menyerap prilaku-prilaku yang ekstremnya dari tayangan-tayangan di TV/Cinema ketimbang pesan moral yang terkandung dalam sebuah tayangan TV/Cinema tersebut.
Sekarang ini, Kasus-kasus pelajar yang melakukan seks bebas bukan berita yang baru lagi bahkan mungkin sudah Nge-trend (AA Bim pengeeeeeeeeen…..he…he…), kita tidak bisa menunjuk lurus-lurus bahwa mereka anak-anak sesat, anak-anak berandal, atau anak-anak bejat. Mereka berbuat demikian karena itu benar dan tak ada yang keliru dalam “kamus” mereka, bahkan pergaulan bebas mereka baik atas nama suka sama suka, ataupun dalam kemasan pacaran yang all out (kaya main bola aja….). Bahkan Sebagian diantara mereka mengabadikan adegan syur-nya ke dalam Media elektronik seperti HandPhone sebagai bagian kenangan terindahnya, tapi sayangnya diantara mereka kurang protective, walhasil video rekaman mereka bocor ! (kaya soal Ujian Nasional aja bocor he…he…), jatuh ke khalayak umum maka jadilah film-film berdurasi pendek itu yang bisa dikonsumsi siapa saja (tentunya bagi mereka yang mau dan berusaha dengan gigih memburu rekaman video tersebut, pasti dijamin dapetlah….!), celakanya Video-video tersebut sampai ditonton anak-anak kecil ! berabe dech ! bisa-bisa mereka engga suka lagi nonton doremon, Scoo bye doo, naruto atau Sincan lagi…..
Ilustrasi di atas bukan main-main lagi tapi emang fenomena yang sudah menggejala dan akan rusaklah kalau semua itu dianggapnya sebagai suatu pembenaran (tapi bagi AA Bim seh..asyik-asyik aja…asal kagak nyenggol gue he..he..), berbagai tayangan video parno eh…porno itu sebagaian kecil saja, karena efek lainnya yang tidak kalah dahsyatnya dari tayangan-tayangan TV/Sinema yang tidak layak tonton, juga bisa memicu prilaku kekerasan dan tindakan kriminal, sebut saja bermunculannya Genk-Genk Motor atau Genk-Genk yang ada di lingkungan sekolah itu sebagai bentuk pengaruh dari lingkungan pergaulan ditambah lingkungan keluarga yang tidak harmonis, kurang kontrol, dan kebebasan yang berlebihan para orang tua. **(sampai di sini dulu…ah..cape cari inspirasinya ! thanx ya udah sudi membaca tulisan ini…)
DIarsipkan di bawah: Renungan | Ditandai: pergaulan bebas, pornografi, seks bebas
