Nasib Guru Tidak Tetap (GTT) bagai Kapas yang Tertiup Angin

Kinerja para GTT pada rata-rata memiliki semangat dan ethos kerja yang terbilang perfect, mungkin kondisi yang mengharuskannya atau dari individunya, yang jelas kalau ibarat robot, mereka akan dengan tepat menunaikan tugas-tugasnya sesuai dengan intruksi-intruksi yang diberikan. Tapi tidak ditampik juga kalau ada sebagian kecil GTT yang pengabdiannya hanya Cuma “Andon” atau “numpang” status di tempat mengajarnya.

GTT yang andon atau numpang status ini jelas memiliki motivasi berbeda baik cara mengajar, gaya dan prilakunya, serta biasanya cenderung “malas”. Mereka akan sangat rajin jika tugas yang dilaksanakannya ada nilai ekonomisnya, seribu jurus dan tetesan keringat pun akan siap mereka keluarkan. Sungguh kontras dibandingkan dengan GTT lain yang masih polos, murni, berdedikasi tinggi dan bertanggung jawab terhadap kemajuan dunia pendidikan di negerinya. Memang kalau berbicara “life earning” dari rata-rata kondisi para GTT dapat dipastikan minim, tapi ada juga GTT “elite” yang motivasi kerjanya sekedar status atau tujuan tertentu, bahkan memiliki income yang melebihi seorang PNS. So, performa dan hasil kerja tidak begitu membebani pikirannya. Boleh dibilang cuman modal Lembar Kerja Siswa (LKS) pun, para GTT “elite” ini bisa berprofesi sebagai “guru”.

Tapi esensi posting ini tidak menyoalkan pola tingkah GTT “elite” ataupun GTT “murni”, yang paling penting di sini kiprah GTT masih belum terlegalisasikan oleh aturan yang berpihak. Mereka ini seacara struktur bukan personil terdata secara tegas di dinas pendidikan setempat, tidak seperti Guru Bantu Sementara dan Honorer daerah (HONDA) yang dibiayai Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD). Inilah polemik yang tidak ada ujung pangkalnya, mau memperjuangkan nasib juga tidak ada jalur legal yang memayunginya. Parahnya lagi para GTT ini jarang ada komunikasi dan kebersamaan dalam menghadapi “kondisi marginal”-nya, selain karena beragam motivasi yang berbeda-beda juga inspirator atau penggagas perbaikan nasib GTT hanya di tingkat lokal doang.


Tinggalkan Balasan