NASIB GURU TIDAK TETAP (GTT) SEMAKIN TERMARGINALKAN
Di dalam lingkungan pendidikan Sekolah pasti tidak terlepas dari keberadaan Guru Tidak Tetap (GTT). Mereka hampir tersebar di seluruh sekolah mulai dari Tingkat SD, SMP, sampai SMA, namun berbagai ketidakberuntungan selalu akrab dialaminya. Secara tugas dan kewajiban, Guru Tidak Tetap (GTT) sebenarnya memiliki porsi yang sama dengan guru lain yang sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun kebijakan dan sistem pendidikan sering berkata lain, mereka harus dipaksa menyerah kepada kondisi kebijakan baik dari sekolah tempat mereka mengajar maupun dinas pendidikan di daerahnya.
Perhatian pemerintah masih tergolong rendah terhadap nasib para GTT ini, belum adanya peningkatan kesejahteraan yang memadai dan kebijakan yang dapat membuat para GTT bernafas lega atau paling tidak ada suatu harapan yang cerah bagi masa depannya. Memang kita akui bahwa pemerintah tidak mungkin memiliki anggaran yang cukup untuk menggaji GTT seperti PNS, tapi alangkah bijak dan mulianya jika ada insentif yang benar-benar berkala diberikan kepada GTT, walau katakanlah cuma 100-200 ribu tetapi kalau diberikannya tidak mendiskriminasikan dan dilakukan secara tepat, itu mungkin bisa sedikit memberi semangat dan harapan bagi para GTT.
Kenyataan di lapangan nasib para GTT ini seperti buruh yang hanya dihadapkan pada keadaan patuh dan tunduk atas status yang disandangnya, bahkan sistem lingkungan pendidikan di beberapa sekolah sering bertidak kejam dengan tidak sungkan-sungkan “mendepak” mereka kalau mengajukan suatu tuntutan atas sedikit kesejahteraannya. Padahal dari segi kenerjanya, banyak diantara GTT ini memiliki kemampuan dan kerajinan yang melebihi PNS. Tapi sekali lagi sistem yang berlaku di negeri ini hanya berdasarkan status formal, dimana pegawai yang terdaftar secara resmi saja yang akan mengenyam “kebijakan-kebijakan manis” dari pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat, sedangkan GTT cukup duduk manis dan mendengarkan senandung indah dari rekan-rekan gurunya yang sudah “terdaftar” sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” kepada negara.
Kecenderungan beberapa kepala daerah untuk mencabut SPP dari sekolah-sekolah sekarang ini menjadi kebijakan yang lagi “NGETREND”, memang dengan dikeluarkannya kebijakan seperti ini sangat disambut gembira oleh orang tua siswa, tapi yang terjadi di pihak sekolah adalah awan mendung yang menutup kecerahan dunia pendidikan. Walaupun ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), itu tidak berarti dana itu cukup untuk membiayai operasional sekolah. Setiap sekolah tentu berbeda kebutuhannya dalam, menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bagai para siswanya dan perlu adanya sedikit dana tambahan dari sektor lain, yang dulu diperoleh dari para orang tua siswa, namun kini semuanya sudah ditiadakan sehingga sekolah semata-mata hanya mengandalkan BOS saja. Dengan keadaan demikian, sekolah melaksanakan sistem dan kebijakan pendidikan sesuai kemampuan anggaran yang ada. Berbagai inovasi dan terobosan yang mestinya harus dikembangkan menjadi “bungker” dan “beku”.
SEBUAH KISAH NYATA DIBALIK KEBERADAAN KELAS BILINGUAL DI SEKOLAH
Dalam pertemuan dengan seluruh orangtua murid calon kelas bilingual di satu SMP, saya berusaha untuk menyamakan ekspektasi mereka pada realitas yang kami miliki di sekolah. Lebih tepatnya lagi, saya berusaha untuk menurunkan ekspektasi mereka yang terlalu tinggi terhadap Bahasa Inggris para pengajar. Ada tiga kondisi dimana Bahasa Inggris akan digunakan. Garis besarnya, penggunaan Bahasa Inggris sbb:
Pertama, Bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar untuk membuka dan menutup kelas. Membuka kelas termasuk greeting, conducting an opening prayer, dan light talk [= pembicaraan ringan].
Kedua, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa untuk memberikan perintah sehari-hari dari guru ke murid-murid. Misalnya please open your book [at] page bla..bla..bla, come forward, work in pairs, put away your books, prepare a piece of paper, don’t cheat, and so on. Semua guru yang mengajar di kelas bilingual, kecuali guru Bhs Indonesia, wajib menggunakan Bahasa Inggris dalam dua kondisi di atas. Mereka telah dilatih berkali-kali untuk memastikan pronunciation-nya minimal comprehensible enough [dapat dipahami saja] bagi murid-murid. Kami tidak dapat berharap native-like language production [= tidak berharap penggunaan bahasa Inggris seperti native-speaker]. It’s simply far-fetched [= sangat tidak mungkin].
Ketiga, khusus untuk pengajar science, math, dan IT, mereka wajib menggunakan bahasa Inggris untuk penyebutan istilah-istilah khusus dalam pelajarannya. Prosedurnya begini, pertama-tama materi disampaikan sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia. Jika murid-murid telah memahami konsep dasar yang diajarkan, guru akan menjelaskan ulang konsep tersebut dalam Bahasa Indonesia tetapi menggunakan term-term khusus dalam Bahasa Inggris. Misalnya untuk mathematical operator symbols dibaca dalam Bahasa Inggris, luas bidang (area), keliling (perimeter, circumference) and so on. Untuk biologi, penyebutan bagian tanaman dalam bahasa Inggris, misalnya root, stem, leaf, branch, twigs… Tetapi susunan kalimat bahasa pengantar ketika guru menjelasakan baik dalam penjelasan pertama maupun berikutnya tetap dalam Bahasa Indonesia. Maka Bhs Inggris digunakan dalam menjelaskan pelajaran sebatas penggunaan istilah-istilah ilmiah. Saya punya alasan logis yang kalau dijelaskan disini bisa panjang. Yang pasti, hal ini akan mengurangi beban content teachers.
Penjelasan ini tidak memuaskan kepala sekolah, karena tidak ‘menjual’ sekolah. Salah satu ortu secara pribadi mengatakan pada saya bahwa beliau membatalkan anaknya masuk kelas ini karena berharap anaknya mendapatkan eksposure bahasa Inggris seketika dia menginjakkan kaki di gerbang sekolah. Ibu ini mengharapkan para guru bercasi-cis-cus dalam Bahasa Inggris di sekolah sebagaimana yang dilihatnya disekolah-sekolah berbahasa Inggris dengan immersion program. Again, it’s simply far-fetched [sangat tidak mungkin].
Saya jelaskan beberapa type dan kondisi program bilingual yang dikenal dalam literatur pengajaran Bahsa asing, mulai dari immersion program (mis di JIS, BIS), transitional, maintenance, dst. Guru-guru yang ada di sekolah kami tidak direkrut dengan kemampuan Bahsa Inggris yang memadai untuk mampu mengajar dalam immersion program. Lantas ibu ini bertanya, mengapa diberi label ‘bilingual’ kalau bahasa Inggris digunakan dalam kondisi yang amat sangat terbatas? Dan mengapa orangtua harus membayar jauh lebih banyak SPP dibanding kelas reguler sementara perbedaannya hanya sebatas fasilitas fisik saja. Saya tidak bisa menjawab. The principal was not happy, neither was the mother. But I’m glad to bring them back to reality. I’m not a good salesperson, indeed. Saya harus siap-siap cari kerjaan lain, mungkin semester depan she would kick me out [diusir kepala sekolah].
[Komentar dari Pak Satria Dharma]
Bravo untuk Anda! Jelas sekali bahwa motivasi para kepala sekolah RSBI ini adalah hendak MENIPU para orang tua dengan segala kamuflase yang bisa ia lakukan agar orang tua mau masuk ke program RSBI. Motifnya jelas sekali adalah UANG. Jadi sama sekali tidak ada idealisme disitu. Saya bersyukur bahwa Anda memutuskan untuk memenangkan hati nurani Anda dan bukannya ikut terseret permainan gila para kepala sekolah.
Saya benar-benar gregetan dengan situasi ini dan ingin mengajak Anda dan teman-teman lain untuk membongkar kebohongan program RSBI ini. Kalau tidak maka kita ikut berdosa membiarkan kebohongan ini berkelanjutan tanpa kita berusaha untuk mencegah.
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Sekali lagi ada pengakuan dari seorang guru yang berani, yang jujur dalam menceritakan kondisi nyata dan kualitas sekolah yang sangat jauh dari harapan orang tua. Perlu dikumpulkan berapa banyak pengakuan seperti ini sebelum orang tua menyadari penipuan yang dilakukan terhadap mereka, baik dari sekolah atau kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), maupun dari kelas bilingual di sekolah swasta?
Semua kelas ini punya landasan yang sama: UANG.
Ilmu yang diharapakan orang tua untuk anaknya adalah suatu hal yang belum tentu muncul, dan kalau memang ada sebagian anak yang mendapatkan ilmu bahasa Inggris yang diinginkan orang tua, belum tentu didapatkan dari sekolah. Justru sangat mungkin dia dapatkan dari internet, dari tivi kabel, dari dvd dan vcd, dari buku, dari kakaknya, dan seterusnya. Sekolah swasta dan kelas bilingualnya yang mahal itu belum tentu menjadi sumber utama dalam perkembangan bahasa anak-anak ini, terutama bila di dalam sekolah/kelas tersebut, tidak ada ahli pengajaran bahasa asing yang sudah tahu caranya mengajarkan bahasa asing dengan baik kepada anak kecil. Ada banyak sekali efek samping yang bisa muncul kalau bahasa asing diberikan dengan cara yang kurang baik. Tetapi jarang harapkan sekolah akan memberitahu orang tua/kustomer.
Kapan orang tua di Indonesia akan menjadi kompak dan menuntut sistem pendidikan yang berkualitas buat semua anak bangsa?
Orang tua mengharapkan dengan bayar mahal di sekolah swasta, minimal anak mereka menjadi lebih pintar daripada anak tetangga, dan dengan itu mendapatkan kesempatan yang lebih luas di dunia ini. Tetapi semua orang tua di seluruh nusantara mengharapkan hal yang sama buat anak mereka, baik orang tua itu direktur bank maupun supir taksi. Kapan orang tua di Indonesia akan bersatu dan dengan kepedulian pada SEMUA anak bangsa, bersuara keras dan menuntut hak pendidikan yang layak buat semua anak bangsa, tanpa lihat siapa bapaknya, atau berapa banyak uangnya?
Bangsa ini bisa maju kalau mayoritas dari penduduk mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu yang baik di dalam sekolah yang baik. Kapan para orang tua akan mulai peduli pada anak tetangga dan bergabung untuk menuntut perhatian yang wajar dari pemerintah negara ini untuk semua anak bangsa?
Semuanya ada di tangan orang tua.
Sekarang, yang kaya ditipu dengan sekolah SBI dan bilingual. Yang miskin diabaikan saja dan aspirasi mereka untuk anak mereka (yang persis sama dengan aspirasi orang kaya untuk anak mereka) sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Situasi dan kondisi ini tidak akan berubah sampai orang tua bergabung, dan mulai peduli pada anak tentangga dan pendidikan yang layak buat semua anak bangsa.
