Seperti yang kita tahu, kurikulum di Indonesia menjadi KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi dan sekarang berubah kembali ke KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang pada intinya menuntun anak sekolah (SD, SMP, SMU serta PT) untuk lebih aktif dengan cara diskusi dan mencari bahan selain dari buku sekolah. Kurikulum itu membuat kita, anak-anak sekolah dan mahasiswa/i harus lebih banyak istirahat atau bisa mudah stres (jarang yg tidak stres ketika mau ujian karena materi utama yang diajarkan sedikit, hanya keahlian (pada KBK) suatu mata pelajaran yang diutamakan).
Gw memberi tips-tips agar anak-anak sekolah atau mahasiswa nggak terlalu kecape’an atau stres semacamnya :Makan dan istirahat yang cukup dengan min. tidur siang/sore pada hari libur.(karena mahasiswa/i biasanya kurang istirahat setelah mengerjakan tugas-tugas kuliah begitu juga dengan anak sekolah)[*]Hang-out atau jalan-jalan untuk refreshing bersama teman untuk menghindari kejenuhan sekolah pada akhir minggu (hari minggu atau sabtu) (Karena teman dapat membuat kita bersosialisasi dan berjalan-jalan di tempat favorit dapat mengurangi over-konsentrasi kita ke sekolah)[*]Luangkan waktu lebih bersama keluarga dan kerabat tentunya (pedoman pertama gw itu, Family is Everything, bila terjadi mis-komunikasi dengan keluarga, tandanya kehilangan bagian terpenting dalam hidup (bagi gw))[*]Bila belajar, janganlah belajar sendiri, lebih baik belajar bersama atau belajar keandampok (dengan teman kos untuk mahasiswa/i yg kos) ataupun ditemani anggota keluarga yg ada (bila dirumah sendiri) dengan diselangi sedikit canda untuk menghilangkan stres walaupun membuyarkan konsentrasi sedikit.[*]Serta, bila belajar juga neeh , sertakan radio. Coba cari stasiun radio favorit anda bila belajar sendiri biar gak bete.[*]Coba lakukan sesuatu favorit bila pulang bimbel/les/acara sekolah/kampus.[*][b]Olahraga yang cukup[/i]!! Ini yang menjadi kekurangan utama untuk anak kuliahan/sekolah. Rata-rata orang cuek dengan kekurusan, tetapi kekurusan atau kurang stamina karena olahraga bisa menyebabkan stres (setahu gw)[*]Dan yang terakhir, try something new and fun..
Jadi biar nggak lakukan aktifitas yang itu-itu aja yang membuat anda-anda pade stres.

 

Iklan

Bagi yang sering surfing di Internet akan terasa sekali bahwa tidak mudah untuk mencari ilmu di Internet. Seringkali pada saat kita surfing justru tenggelam dalam lautan informasi; terlalu enak membaca-baca tanpa tujuan yang jelas; melihat-lihat berbagai etalase informasi di berbagai situs tanpa tujuan yang jelas hanya untuk memuaskan mata & pikiran; memang pada akhirnya kita akan memperoleh banyak informasi tapi belum tentu memperoleh sesuatu yang betul-betul bermanfaat atau biasanya maksimum kita akan memperoleh berita-berita / informasi terakhir sebagai pengganti koran.

Bagi anda yang mempunyai waktu yang sempit sehingga tidak mungkin menggunakan pola-pola di atas untuk melakukan surfing di Internet. Kita perlu menggunakan metoda / pola yang baik supaya bisa memperoleh informasi yang sangat spesifik dengan baik dalam waktu yang singkat. Satu hal yang perlu di pegang erat-erat pada saat kita surfing adalah menentukan dengan sangat jelas niat/tujuan utama pada saat surfing tersebut – apa yang akan kita cari? Pada kesempatan ini Bapak Onno W Purbo akan memberikan sedikit tip & trik jika kebetulan niat anda adalah mencari ilmu di Internet. Baca entri selengkapnya »

Blog dapat dikategorikan sebagai e learning, dalam tulisannya Rosenberg (2001) beliau mengungkapkan bahwa e learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Sebuah blog dapat dijadikan media belajar interaktif, misalnya sebuah komunitas guru di sebuah sekolahan rame-rame membuat blog yang isi atau konten sebuah blog menyangkut mata pelajaran yang di ampu masing-masing guru. Kemudian ada siswa yang mengakses blog tersebut, Si siswa mengisi comment di blog, sehingga terjadi komunikasi dalam sebuah blog tanpa di batasi sebuah protokoler antara guru dan murid. Dalam hitungan saat ini jumlah mata pelajaran di sekolah tidak lebih dari 20 macam. Jadi jika setiap kabupaten ada guru yang aktif ngeblog untuk 1 fokus pelajaran tertentu maka pendidikan Indonesia dengan cepat majunya. Sebab isi blog bisa apa saja, bahkan akan sangat menggigit. Dan tidak akan keluar jalur, karena pengunjung blog bisa saja memberi kritiknya. Setidaknya Ini demi penghematan biaya yg harus dikeluarkan untuk kegiatan sosialisasi atau penataran2 yg kadang tidak ada ujung-nya.

Blog juga dapat menjadi media untuk mengungkapkan usul, komentar dan uneg-uneg seorang siswa tentang sistem pengajaran yang ada di sekolah, sehingga pihak guru dan sekolah dapat meningkatkan kinerja mereka sesuai yang diharapkan para peserta didik dalam hal ini adalah siswa sekolah.Kekuatan blog dalam dunia dalam dunia pendidikan

* Isinya bisa luas menyangkut banyak hal pengajaran
* Bisa dijadikan ajang belajar menulis untuk menuangkan ide
* Bukti portofolio seorang guru terkait profesionalitasnya
* Relatif lebih hemat biaya
* Menembus ruang
* Bebas aturan alias suka-suka yg nulis (yg ada hanya etika atau aturan tidak tertulis)
* Melepaskan kebiasaan formalitas untuk menghambur uang rakyat
* Pengembangan proses pembelajaran yang bervariatif

Blog sangat mudah pengelolaannya dibandingkan website. Bahkan untuk di wordpress.com jika belum berpengalaman dapat membaca cara nge-blog. Ini mudah untuk diikuti. Dengan adanya software blog editor yang bisa dipakai secara offline maka waktu koneksi bisa dipersempit dan hemat biaya jika harus membayar rekening telepon. Dibutuhkan koneksi internet tidak lebih dari 1 jam jika tulisan sudah dipersiapkan secara offline.

Blog sebagai media informasi dan promosi sebuah institusi

Dengan semakin berkembangnya zaman maka media komunikasi juga semakin berkembang salah satunya yaitu blog. Jika dahulu mengiklankan sebuah produk perusahaan dengan mengguakan media cetak atau pamflet dan poster yang mengelurkan biaya banyak, maka sekarang promosi sebuah produk dapat menggunakan sebuah blog yang murah meriah dan gratis. Blog juga dapat di jadikan sebagai media promosi seorang penulis untuk memasarkan bukunya. Dengan blog seorang penulis buku dapat memberikan tulisan singkat atau resensi buku ang ditulisnya, sehingga para pembaca dapat tertarik untuk membeli buku tersebut J.

Blog dapat disimpulkan sebagai media informasi baik yang bersifat formal

(sebuah institusi) atau informal (ajang tulis menulis kegiatan sehari-hari seorang blogger) yang bersifat murah meriah dan tidak memerlukan keahlian khusus untuk membuatnya misalnya keahlian HTML. Blog sangat mudah dibuat oleh seorang awan dalam dunia website. Blog dapat dihias sesuai dengan keinginan pembuatnya misalnya dipercantik dengan hitcounter, lokasi dan IP address pengakses dan merubah background sesuai keinginan.

Bagi Anda yang ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas dari sekolah bermutu, tentunya banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Berikut ini ada beberapa tips dan triks memilih sekolah yang tepat:

1. Telusuri minat dan bakat anak, arahkan bakatnya sesuai dengan keinginan anak.
2. Cari sekolah sesuai dengan minat dan bakat anak.
3. Pilih lokasi strategis yang dapat memudahkan proses pendidikan anak Anda.
4. Perhatikan lingkungan sekitar yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak Anda.

5. Pilih sekolah dengan fasilitas yang lengkap, kurikulumnya berbasiskan kompetensi, kualitas pengajar yang baik, dan metode belajar yang berkualitas seperti menggunakan metode active learning. Observasi sekolah tersebut apakah materi pembelajarannya sesuai dengan perkembangan anak.

6. Perhatikan frekuensi belajar sekolah dan sesuaikan dengan ritme anak Anda.

7. Siapkan segala kebutuhan anak Anda sejak dini, termasuk mempersiapkan biaya pendidikan dalam bentuk Tabungan pendidikan.

Posting ini kuluncurkan dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 November 2008. Dulu sewaktu penulis masih imut alias masih kanak-kanak (sekarang mah….udah tuak he…he…tapi masih sedikit tampan, banyak jueleknya he…he…) selalu ditanamkan nilai-nilai kebangsaan baik itu di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Di sela-sela mengajarnya Para Guru menanamkan rasa nasionalisme kepada anak didiknya, mereka mengemasnya dalam bentuk cerita patriotisme yang menyuguhkan alur cerita yang menarik, sehingga memancing perhatian para siswanya. Selain itu, sebelum pelajaran dimulai terkadang  para siswa juga diminta menyanyikan lagu-lagu nasional oleh gurunya. Di lingkungan keluarga di masa penulis kecil atmosfir penerapan nilai sejarah dan nasionalisme perjuangan bangsa ini kerap diberikan. Misalnya orang tua pada suatu hari nasional meminta penulis memasang bendera sang merah putih di halaman rumah, dan orang tua menjelaskan alasan pemasangan bendera tersebut, sehingga penulis menganguk-angguk tanda mengerti. Yah….itu sedikit kisah sentimentil penulis saja dikala masih muda, dan rekaman pentarnsferan nilai nasionalisme masih terpatri walaupun mulai sedikit memudar.

Bandingkan dengan zaman sekarang, segalanya sudah berkembang pesat baik itu bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan teknologinya. Tapi kalau kita amati secara teliti, ada semangat dari bangsa ini yang mulai tergesek habis ditelan kemajuan zaman karena sistem yang membentuknya tidak berjalan maksimal. Salah satunya adalah nilai nasionalisme generasi mulai hilang melayang dipagut hingar bingar alunan musik modernisasi dan globalisasi. hampir secara menyeluruh seluruh lini di negeri ini melupakan penyemaian rasa kebangsaan kepada kaum muda, terutama para pelajarnya.

Pelajar zaman sekarang akan lebih cepat terprovokasi melakukan aksi tawuran daripada memproyeksikan kegiatan akademisnya. Pelajar SD akan fasih dan menjiwai jika disuruh menyanyikan lagu-lagu Ungu atau Paterpan daripada menyaynyikan lagu “Bagimu Negeri”. Pelajar SMP akan semangat dan bergairah jika membacakan karya-karya “Khalil Gibran” daripada membaca karya Chairil Anawar. Anak-anak SMA akan ogah-ogahan kalau disuruh Apel Bendera, tapi akan bersemangat 45 kalau Apel ke “gebetannya”. Fenomena-fenomena tersebut hanya sebagian kecil saja yang ada di sekitar kita, masih seabreg lagi prilaku-prilaku dan semangat patriotisme-nasionalisme yang mulai asing dengan konsep hidup zaman sekarang.

Salahkah generasimuda punya kecenderungan seperti itu ? jawabnya tentu tidak ! mereka kan tidak pernah tahu dan belum dilahirkan tatkala terjadinya Perang 10 November yang merenggut ribuan nyawa putra-putri terbaik bangsa ini, mereka tak kenal apa arti air mata penderitaan akibat kejamnya masa kolonial selain air mata para artis dan aktor dalam adegan di sebuah sinetron. Para remaja sekarang tidak akan mengerti bagaimana susahnya RA Kartini menempatkan wanita pada martabat yang tinggi.

Mungkin Arwah pahlawan di Alam sana banyak yang bergumam, Bukan ini  balasan yang kami inginkan atas pengorbanan dan perjuangan kami….!  Sia-sialah darah dan air mata kami yang sudah membasahi bumi pertiwi ini….! Jiwa dan raga kami memang sudah sirna, semangat nasionalisme harus tetap terjaga….! agar bangsa ini berdiri TEGAK dan BERMARTABAT di mata bangsa lain…

Pemuda di pundakmu kami sandarkan harapan dan cita-cita, di kepalamu kami tunggu pemikiran cemerlangmu, dan di tangan kekarmu kami titipkan kiprah-kiprah yang belum sempat digoreskan ke hidupan nyata….WAHAI Para generasimuda Jangan biarkan tangisan kami semakin keras karena sepak terjangmu !!! Tapi hiasi wajah-wajah kami dengan senyum dengan KARYA-KARYA yang spektakuler.

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2008…..

Departemen Pendidikan Nasional menetapkan 260 rintisan sekolah bertaraf internasional. Diharapkan pada tahun 2009 tersaring minimal 112 benar-benar menjadi SBI. Kemampuan berbahasa Inggris kepala sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) sangat rendah.Bayangkan : dari 260 kepala sekolah rintisan Sekolah Berataraf Internasional (RSBI) yang mengikuti tes bahasa Inggris, sekitar 50% nilai TOEIC (Test of English for Internasional Communication) dibawah 245 alias tingkat kemampuannya berada pada tingkat dibawah elementary. Hanya sekitar 10% kepala sekolah yang benar-benar mampu berbahasa Inggris dengan baik, yang sebagian besar berlatarbelakang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah fakta yang kami temukan di lapangan. Tidak usah kami tutup-tutupi. Justru hal ini menjadi tantangan kami ke depan : bagaimana kemampuan bahasa Inggris mereka.

Namanya saja SBI, kalau kemampuan bahasa Inggris gurunya kacau kan tidak lucu. Direktorat Tenaga Kependidikan memang punya tugas ekstra berat buat mendongkrak kualitas para kepala sekolah, khususnya kepala rintisan SBI. Keberadaan SBI ditegaskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Rintisan SBI sudah bermunculan di Tanah Air sejak 2005. Namun, pedoman penjaminan mutu SBI, baik jenjang pendidikan dasar dan menengah, baru keluar pada tahun 2007 lalu. Buku Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, yang ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, memang baru digulirkan pada 27 Juni 2007. Menurut pedoman, SBI merupakan sekolah/Madrasah yang sudah memiliki seluruh standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu Negara anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) dan/atau Negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya saing di forum internasional. SNP terdiri dari delapan komponen, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian. Otomatis, pemenuhan delapan standar nasional pendidikan itu mutlak dipenuhi oleh SBI, sebelum menambah standar pendidikan internasional dari negara-negara anggota OECD atau negara maju lain. Yang menjadi cirri khas SBI, proses pembelajaran mata pelajaran kelompok sains harus menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (bilingual). Selain itu, kegiatan pembelajaran harus berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Oleh karena itu, setiap ruang kelas harus dilengkapi sarana pembelajaran berbasis TIK. Perpustakaan sekolah juga harus dilengkapi sarana digital yang memungkinkan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Sebagai perbandingan, di Turki setiap guru punya satu laptop. “Di sekolah-sekolah rintisan SBI kalau kepala sekolahnya bisa mengoperasikan komputer dengan baik saja sudah bagus. Kemampuan IT mereka memang belum kita petakan. Buku pedoman tersebut juga menegaskan bahwa guru matapelajaran kelompok sains harus mampu berbahasa Inggris dengan baik. Kepala sekolah/madrasah SBI selain dituntut lancar berbahasa Inggris, kualifikasi pendidikannya minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya berkualifikasi A, dan telah menempuh pelatihan kepala sekolah dari lembaga pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh pemerintah. Direktorat Tendik pun segera melakukan pembinaan kepala SBI, khususnya memperbaiki kemampuan bahasa Inggris mereka. TOEIC sudah berupa program atau materi-materi pembelajaran bahasa Inggris yang bias dipelajari sendiri oleh kepala sekolah. BELAJAR KE TURKI DAN SINGAPURA Direktorat Tendik juga telah menyalurkan dana block grant ke sekolah-sekolah rintisan SBI, masing-masing Rp 100 juta. Dana itu diharapkan mampu menggairahkan kepala sekolah meningkatkan kualitasnya. Selain itu, kepala sekolah juga dikirim ke luar negeri, yakni ke Turki, Malaysia, dan Singapura, sekitar dua pekan. Setidaknya, ada 100 kepala sekolah yang telah belajar di National Institute of Education (NIE) di Singapura, November 2007 lalu. Kepala sekolah yang dikirim ke Turki sebanyak 50 orang. Pengiriman kepala sekolah ke Turki tersebut atas saran Menteri Pendidikan Nasional. Indonesia sendiri memang telah menjalin kerjasama peningkatan mutu pendidikan dengan Turki.

Selain itu, menurut Mendiknas, Turki merupakan satu-satunya Negara yang bisa dijadikan contoh tentang besarnya perhatian masyarakat bisnis terhadap pendidikan. Pebisnis menyisihkan sebagian pendapatan untuk membangun pendidikan. Di Turki, para kepala sekolah mengikuti kegiatan seminar selama enam hari. Seminar membahas tentang sistem pendidikan di Turki, kurikulum, sistem pembelajaran, sistem pengawasan sekolah, dan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu guru dan kepala sekolah. Sayangnya, dari 50 kepala sekolah yang dikirim ke sana, hanya dua orang yang bisa berbahasa Inggris

Tulisan aku ini bukanlah asal-asalan atau isapan jempol belaka, tapi melihat realitas yang sering menerpa kaum intelek atau calon cendikiawan. Maraknya perbuatan oknum siswa/pelajar dan bahkan juga orang yang seharusnya menjadi panutan kedalam suatu tindakan tercela dan memalukan begitu sering terjadi di sekeliling kita. Sebut saja pergaulan bebas yang begitu “ngetrend” di kalangan siswa jaman sekarang, atas nama perkembangan zaman yang modern, mereka membuang jauh-jauh pesan moral, etika dan ajaran luhur dari agamanya. Kalau dilihat dari segi hak kebebasan manusia, memang setiap manusia memiliki kebebasan sepenuhnya untuk berekspresi, berbuat dan mengaktualisasikan dirinya, tapi ingat kita hidup itu tidak hanya “menjor” atau melampiaskan hasrat dan nafsu saja. Ada unsur hidup yang tidak boleh dicuekin yaitu tuntunan hidup baik itu bentuknya berupa ajaran agama, falsafah negara, dan pesan moralitas lainnya, yang akan memberikan hidup kita lebih bermakna.

Namun tampaknya semua itu sudah menjadi memudar dan bahkan nyaris menghilang. Menurut beberapa siswa dari yang penulis ketahui (baik dari pengalaman nyata, wawancara dan dialog dengan sejumlah siswa) bahwa aturan-aturan yang selama ini dikenal mereka baik itu ajaran agama, pendidikan moral di lingkungan keluarga dan sekolah, katanya terlalu mengekang dan membatasi kebebasan mereka dalam melakukan pencarian jati diri, tapi untuk “memberontak” mereka belum punya keberanian. Setelah mereka “diluar” jangkauan dari aturan sistem tersebut, sifat dan prilaku asli mereka akan tampak kontras sekali. Maka tidak mengherankan kebanyakan siswa jika di lingkungan keluarga dan sekolah tampak bagi “makhluk-makhluk Tuhan” yang manis, polos, suci dan penurut, tapi jika sudah keluar dari aturan-aturan sistem tersebut, mereka akan menerapkan aturan dan pandangan versi asli mereka. Baca entri selengkapnya »

Eksploitasi seksual dalam video klip, majalah, televisi dan film-film ternyata mendorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia muda. Dengan melihat tampilan atau tayangan seks di media, para remaja itu beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja, dimana saja.

Menurut Jane Brown, ilmuwan dari Universitas North Carolina yang memimpin proyek penelitian ini, semakin banyak remaja disuguhi dengan eksploitasi seks di media, maka mereka akan semakin berani mencoba seks di usia muda.

Sebelumnya para peneliti ini telah menemukan hubungan antara tayangan seks di televisi dengan perilaku seks para remaja. Dengan mengambil sampel sebanyak 1,017 remaja berusia 12 sampai 14 tahun dari Negara bagian North Carolina, AS yang disuguhi 264 tema seks dari film, televisi, pertunjukan, musik, dan majalah selama 2 tahun berturut-turut, mereka mendapatkan hasil yang sangat mengejutkan. Baca entri selengkapnya »

Memang kedengarannya judul tulisan ini “nyeleneh” alias mengada-ngada, tapi inilah realitas yang dijumpai pada siswa-siswa zaman sekarang, zaman yang katanya sedang gencar-gencarnya arus globalisasi. Disadari atau tidak oleh para guru (Barangkali termasuk Aa Bim sendiri he..he..) bahwa nilai-nilai moralitas dan etika para siswa sudah tergerus oleh kemajuan-kemajuan yang mengatasnamakan globalisasi. Baca entri selengkapnya »

Pelajar/siswa adalah sosok calon intelektual muda yang dipersiapkan melalui suatu proses pendidikan yang profesional dan berkesinambungan menuju terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Tidak hanya ilmu pengetahuan saja, Keterampilan/skill, etika dan moralitas juga menjadi unsur yang tak kalah pentingnya sebagai menu bagi para pelajar.

Idealnya dari hasil yang diharapkan dari jenjang pendidikan yang selenggarakan adalah adanya suatu perubahan pada peserta didik/pelajar baik itu menyangkut ilmu pengetahuan, keterampilan yang dimiliki, kemampuan berpikir, maupun sikap dan prilakunya. Namun, lamanya waktu yang ditempuh pendidikan di sekolah tidak bisa menjadi jaminan bahwa seorang anak telah matang dan sesuai standar kelulusan yang ditentukan jenjang sekolahnya. Memang tak dapat kita pungkiri bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak sepenuhnya tergantung pada sekolah, faktor lingkungan dan keluarga juga ikut mengambil bagian di dalamnya.

Baca entri selengkapnya »

Buku teks pelajaran dengan harga murah akan tersedia dalam dua versi. Versi pertama adalah buku-buku yang telah dibeli hak ciptanya oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), sedangkan versi kedua adalah buku-buku yang tidak dibeli hak ciptanya oleh Depdiknas berasal dari para penerbit yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Kedua versi buku tersebut boleh diperdagangkan selama tidak melampaui batas harga eceran tertinggi (HET).

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada acara Sosialisasi Buku Teks Pelajaran dan Sistem Informasi Manajemen Keuangan di Gedung Depdiknas, Jakarta, Senin (23/06/2008). Hadir pada acara para perwakilan dinas pendidikan provinsi seluruh Indonesia. Baca entri selengkapnya »