Arsip untuk November, 2008

Bagi Anda yang ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas dari sekolah bermutu, tentunya banyak hal yang harus dipertimbangkan.

Berikut ini ada beberapa tips dan triks memilih sekolah yang tepat:

1. Telusuri minat dan bakat anak, arahkan bakatnya sesuai dengan keinginan anak.
2. Cari sekolah sesuai dengan minat dan bakat anak.
3. Pilih lokasi strategis yang dapat memudahkan proses pendidikan anak Anda.
4. Perhatikan lingkungan sekitar yang akan berpengaruh terhadap perkembangan anak Anda.

5. Pilih sekolah dengan fasilitas yang lengkap, kurikulumnya berbasiskan kompetensi, kualitas pengajar yang baik, dan metode belajar yang berkualitas seperti menggunakan metode active learning. Observasi sekolah tersebut apakah materi pembelajarannya sesuai dengan perkembangan anak.

6. Perhatikan frekuensi belajar sekolah dan sesuaikan dengan ritme anak Anda.

7. Siapkan segala kebutuhan anak Anda sejak dini, termasuk mempersiapkan biaya pendidikan dalam bentuk Tabungan pendidikan.

Iklan

Posting ini kuluncurkan dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 November 2008. Dulu sewaktu penulis masih imut alias masih kanak-kanak (sekarang mah….udah tuak he…he…tapi masih sedikit tampan, banyak jueleknya he…he…) selalu ditanamkan nilai-nilai kebangsaan baik itu di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Di sela-sela mengajarnya Para Guru menanamkan rasa nasionalisme kepada anak didiknya, mereka mengemasnya dalam bentuk cerita patriotisme yang menyuguhkan alur cerita yang menarik, sehingga memancing perhatian para siswanya. Selain itu, sebelum pelajaran dimulai terkadang  para siswa juga diminta menyanyikan lagu-lagu nasional oleh gurunya. Di lingkungan keluarga di masa penulis kecil atmosfir penerapan nilai sejarah dan nasionalisme perjuangan bangsa ini kerap diberikan. Misalnya orang tua pada suatu hari nasional meminta penulis memasang bendera sang merah putih di halaman rumah, dan orang tua menjelaskan alasan pemasangan bendera tersebut, sehingga penulis menganguk-angguk tanda mengerti. Yah….itu sedikit kisah sentimentil penulis saja dikala masih muda, dan rekaman pentarnsferan nilai nasionalisme masih terpatri walaupun mulai sedikit memudar.

Bandingkan dengan zaman sekarang, segalanya sudah berkembang pesat baik itu bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan teknologinya. Tapi kalau kita amati secara teliti, ada semangat dari bangsa ini yang mulai tergesek habis ditelan kemajuan zaman karena sistem yang membentuknya tidak berjalan maksimal. Salah satunya adalah nilai nasionalisme generasi mulai hilang melayang dipagut hingar bingar alunan musik modernisasi dan globalisasi. hampir secara menyeluruh seluruh lini di negeri ini melupakan penyemaian rasa kebangsaan kepada kaum muda, terutama para pelajarnya.

Pelajar zaman sekarang akan lebih cepat terprovokasi melakukan aksi tawuran daripada memproyeksikan kegiatan akademisnya. Pelajar SD akan fasih dan menjiwai jika disuruh menyanyikan lagu-lagu Ungu atau Paterpan daripada menyaynyikan lagu “Bagimu Negeri”. Pelajar SMP akan semangat dan bergairah jika membacakan karya-karya “Khalil Gibran” daripada membaca karya Chairil Anawar. Anak-anak SMA akan ogah-ogahan kalau disuruh Apel Bendera, tapi akan bersemangat 45 kalau Apel ke “gebetannya”. Fenomena-fenomena tersebut hanya sebagian kecil saja yang ada di sekitar kita, masih seabreg lagi prilaku-prilaku dan semangat patriotisme-nasionalisme yang mulai asing dengan konsep hidup zaman sekarang.

Salahkah generasimuda punya kecenderungan seperti itu ? jawabnya tentu tidak ! mereka kan tidak pernah tahu dan belum dilahirkan tatkala terjadinya Perang 10 November yang merenggut ribuan nyawa putra-putri terbaik bangsa ini, mereka tak kenal apa arti air mata penderitaan akibat kejamnya masa kolonial selain air mata para artis dan aktor dalam adegan di sebuah sinetron. Para remaja sekarang tidak akan mengerti bagaimana susahnya RA Kartini menempatkan wanita pada martabat yang tinggi.

Mungkin Arwah pahlawan di Alam sana banyak yang bergumam, Bukan ini  balasan yang kami inginkan atas pengorbanan dan perjuangan kami….!  Sia-sialah darah dan air mata kami yang sudah membasahi bumi pertiwi ini….! Jiwa dan raga kami memang sudah sirna, semangat nasionalisme harus tetap terjaga….! agar bangsa ini berdiri TEGAK dan BERMARTABAT di mata bangsa lain…

Pemuda di pundakmu kami sandarkan harapan dan cita-cita, di kepalamu kami tunggu pemikiran cemerlangmu, dan di tangan kekarmu kami titipkan kiprah-kiprah yang belum sempat digoreskan ke hidupan nyata….WAHAI Para generasimuda Jangan biarkan tangisan kami semakin keras karena sepak terjangmu !!! Tapi hiasi wajah-wajah kami dengan senyum dengan KARYA-KARYA yang spektakuler.

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2008…..

Departemen Pendidikan Nasional menetapkan 260 rintisan sekolah bertaraf internasional. Diharapkan pada tahun 2009 tersaring minimal 112 benar-benar menjadi SBI. Kemampuan berbahasa Inggris kepala sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) sangat rendah.Bayangkan : dari 260 kepala sekolah rintisan Sekolah Berataraf Internasional (RSBI) yang mengikuti tes bahasa Inggris, sekitar 50% nilai TOEIC (Test of English for Internasional Communication) dibawah 245 alias tingkat kemampuannya berada pada tingkat dibawah elementary. Hanya sekitar 10% kepala sekolah yang benar-benar mampu berbahasa Inggris dengan baik, yang sebagian besar berlatarbelakang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah fakta yang kami temukan di lapangan. Tidak usah kami tutup-tutupi. Justru hal ini menjadi tantangan kami ke depan : bagaimana kemampuan bahasa Inggris mereka.

Namanya saja SBI, kalau kemampuan bahasa Inggris gurunya kacau kan tidak lucu. Direktorat Tenaga Kependidikan memang punya tugas ekstra berat buat mendongkrak kualitas para kepala sekolah, khususnya kepala rintisan SBI. Keberadaan SBI ditegaskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Rintisan SBI sudah bermunculan di Tanah Air sejak 2005. Namun, pedoman penjaminan mutu SBI, baik jenjang pendidikan dasar dan menengah, baru keluar pada tahun 2007 lalu. Buku Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, yang ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, memang baru digulirkan pada 27 Juni 2007. Menurut pedoman, SBI merupakan sekolah/Madrasah yang sudah memiliki seluruh standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu Negara anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) dan/atau Negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya saing di forum internasional. SNP terdiri dari delapan komponen, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian. Otomatis, pemenuhan delapan standar nasional pendidikan itu mutlak dipenuhi oleh SBI, sebelum menambah standar pendidikan internasional dari negara-negara anggota OECD atau negara maju lain. Yang menjadi cirri khas SBI, proses pembelajaran mata pelajaran kelompok sains harus menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (bilingual). Selain itu, kegiatan pembelajaran harus berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Oleh karena itu, setiap ruang kelas harus dilengkapi sarana pembelajaran berbasis TIK. Perpustakaan sekolah juga harus dilengkapi sarana digital yang memungkinkan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia. Sebagai perbandingan, di Turki setiap guru punya satu laptop. “Di sekolah-sekolah rintisan SBI kalau kepala sekolahnya bisa mengoperasikan komputer dengan baik saja sudah bagus. Kemampuan IT mereka memang belum kita petakan. Buku pedoman tersebut juga menegaskan bahwa guru matapelajaran kelompok sains harus mampu berbahasa Inggris dengan baik. Kepala sekolah/madrasah SBI selain dituntut lancar berbahasa Inggris, kualifikasi pendidikannya minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya berkualifikasi A, dan telah menempuh pelatihan kepala sekolah dari lembaga pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh pemerintah. Direktorat Tendik pun segera melakukan pembinaan kepala SBI, khususnya memperbaiki kemampuan bahasa Inggris mereka. TOEIC sudah berupa program atau materi-materi pembelajaran bahasa Inggris yang bias dipelajari sendiri oleh kepala sekolah. BELAJAR KE TURKI DAN SINGAPURA Direktorat Tendik juga telah menyalurkan dana block grant ke sekolah-sekolah rintisan SBI, masing-masing Rp 100 juta. Dana itu diharapkan mampu menggairahkan kepala sekolah meningkatkan kualitasnya. Selain itu, kepala sekolah juga dikirim ke luar negeri, yakni ke Turki, Malaysia, dan Singapura, sekitar dua pekan. Setidaknya, ada 100 kepala sekolah yang telah belajar di National Institute of Education (NIE) di Singapura, November 2007 lalu. Kepala sekolah yang dikirim ke Turki sebanyak 50 orang. Pengiriman kepala sekolah ke Turki tersebut atas saran Menteri Pendidikan Nasional. Indonesia sendiri memang telah menjalin kerjasama peningkatan mutu pendidikan dengan Turki.

Selain itu, menurut Mendiknas, Turki merupakan satu-satunya Negara yang bisa dijadikan contoh tentang besarnya perhatian masyarakat bisnis terhadap pendidikan. Pebisnis menyisihkan sebagian pendapatan untuk membangun pendidikan. Di Turki, para kepala sekolah mengikuti kegiatan seminar selama enam hari. Seminar membahas tentang sistem pendidikan di Turki, kurikulum, sistem pembelajaran, sistem pengawasan sekolah, dan upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu guru dan kepala sekolah. Sayangnya, dari 50 kepala sekolah yang dikirim ke sana, hanya dua orang yang bisa berbahasa Inggris